Buaya Penganut Monogami, Lho!

Posted by Wahyu Muhammad Sabtu, 20 November 2010 0 komentar

Crocodile_nile_africa

Netsains.com - Lelaki hidung belang identik dengan buaya? Waduh, kasihan buayanya. Sebab menurut studi terkini, buaya itu justri penganut monogami, setidaknya mayoritas dari mereka. Studi selama 10 tahun yang dilakukan di Rockefeller Wildlife Refuge di Louisian, membuktikan bahwa 70% buaya betina selalu memilih pasangan yang sama setiap kali musim kawin tiba. Padahal mereka punya banyak kesempatan untuk memilih pasangan baru.

“Kita terkejut dan tidak menyangka akan menemukan pasangan yang sama di antara buaya yang kawin pada tahun 1997 dan masih tetap berpasangan sampai tahun 2005,” ujar Stacey Lance, peneliti dari Savannah River Ecology Laboratory yang memimpin riset ini.
Jika benar buaya menganut monogami, maka mereka masuk kategori hewan monogamus, selain bonobo, bangsa primata seperti manusia, juga singa laut.

Studi yang dilakukan Lance melibatkan pelacakan kelompok buaya betina dan analisa DNA pada musim kawin mereka. Dari 10 buaya betina, 7 di antaranya kembali pada pasangan kawin yang sama sejak tahun 1997 sampai 2005.

Pola kawin mereka sama dengan perilaku kawin spesies burung, bersifat musiman. Spesies buaya merupakan keturunan dari jenis reptil archosaurus, kelompok dari reptil purba yang juga melahirkan jenis burung. Hubungan evolusi tersebut memberi kesempatan unik pada ilmuwan untuk memahami kesamaan pola musim kawin, baik pada burung maupun dinosaurus.
Dalam studi ini, kombinasi teknik molekuler dengan sejumlah studi lain memungkinkan kita menemukan hal baru mengenai suatu spesies yang sebelumnya belum diketahui.

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.
foto:solarnavigator.net


Baca Selengkapnya ....

Tardigrades / Beruang Air, Binatang Yang Bisa Hidup Di luar Angkasa

Posted by Wahyu Muhammad Selasa, 16 November 2010 0 komentar

Tardigrades (dikenal dengan Water Bears / Beruang Air) merupakan bagian dari supefilum Ecdysozoa, filum Tardigrada . Ukurannya sangat kecil, hidup di air, dengan kaki berjumlah delapan. Tardigrades pertama kali dideskripsikan oleh Eprhaim Goeze pada tahun 1773.

Nama Tardigrades berarti “pejalan lambat” yang diberikan oleh Spallanzani (1777). Panjang tubuh tardigrades dewasa adalah 1,5 mm, paling kecil ukurannya 0,1 mm, larvanya berukuran 0,05 mm. Tardigrades bisa ditemukan di semua bagian dunia, mulai dari puncak Himalaya hingga di dasar samudera, dan dari kutub hingga di bagian ekuator. Tempat yang paling disukai di tempat berganggang. Di pantai, tanah maupun di air dapat dijumpai binatang mini ini.

Hal yang paling menarik dari hewan ini adalah kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan yang sangat ekstrim. Tardigrades dapat bertahan di lingkungan yang beku (0oC) hingga di tempat yang bertemperatur tinggi (151oc).

Bahkan dapat bertahan terhadap radiasi 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah radiasi di mana makhluk hidup lain dapat bertahan. Oleh karena itu, tardigrades dikenal sebagai hewan yang polyextremeophiles.

Dengan kemampuan tersebut, tardigrades merupakan makhluk hidup yang dapat bertahan bila terjadi perang nuklir atau bencana alam lain yang ekstrim. Bahkan tardigrades dapat hidup selama 120 tahun dalam kondisi kering.

Kemampuan unik lainnya dari tardigrades adalah dapat bertahan di keadaan angkasa luar yang hampa udara. Pada suatu penelitian tardigrades dapat hidup selama10 hari di lingkungan luar angkasa.

Tardigrades yang mengangkasa menggunakan pesawat luar angkasa FOTON-M3 oleh European Space Agency, dapat bertahan hidup dalam keadaan hampa udara, terpapar sinar kosmik, dan bahkan dapat bertahan terhadap radiasi UV matahari 1000 kali lebih tinggi dibandingkan radiasi di permukaan bumi.

Sumber : eksplorasi-dunia.blogspot.com 


Baca Selengkapnya ....

Popular Posts

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of wahyu blog .